Penyakit

Perhatikan Tumbuh Kembang Anak dari Kifosis

Postur tubuh normal adalah tulang belakang yang agak melengkung pada bagian leher, di punggung atas maupun dada, dan juga punggung bagian bawah. Namun, jika lengkungan tersebut melebihi 45 derajat, maka kondisi yang terjadi termasuk dalam kifosis.

Kifosis adalah kondisi pelengkungan tulang belakang yang dapat menimbulkan tampilan bagian atas punggung tampak lebih membungkuk jika dibanding dengan kondisi normal. Penyakit ini lebih banyak menyerang kelompok usia lanjut, namun kemungkin kifosis menyerat anak-anak juga cukup besar. Pasalnya, terdapat penyakit Scheuermann yang diturunkan secara genetik yang sebabkan kondisi serupa.

Apa penyebab pasti dari kifosis?

Di bawah ini, terdapat faktor-faktor penyebab kifosis yang perlu Anda waspadai:

  • Kondisi otot yang lemah pada punggung bagian atas.
  • Osteoporosis (penurunan kepadatan tulang).
  • Cedera pada tulang belakang.
  • Arthritis (radang sendi menahun) maupun penyakit degenerasi tulang lainnya.
  • Penuaan yang didukung juga akibat postur tubuh buruk akibat posisi duduk, berdiri, dan tidur yang tidak tepat.
  • Penyakit Scheuermann yang umumnya diturunkan pada anak.
  • Skoliosis (kondisi tulang belakang melengkung ke arah samping secara tidak normal).

Di samping penyebab yang telah disebutkan di atas, kifosis juga berpeluang terjadi akibat:

  • Infeksi pada tulang belakang.
  • Cacat bawaan lahir, seperti spina bilfida.
  • Tumor.
  • Penyakit jaringan ikat.
  • Polio.
  • Penyakit paget.
  • Penyakit sistem endokrin (hormon).
  • Distrofi (pengecilan) otot.

Gejala kifosis seperti apa yang perlu diwaspadai?

Pada dasarnya, kifosis tidak menunjukkan gejala lain, kecuali bentukan tulang punggung yang terlihat jelas bungkuk. Namun, dalam beberapa kasus tertentu, penderita kifosis akan merasakan beberapa masalah di sekitar tulang belakang, seperti sakit punggung. Selain itu, ia juga akan merasakan kekuaan pada punggung dan area sekitarnya. Di area tulang belakang akan terasa nyeri seperti diberi tekanan serta mudah merasa lelah.

Jika Anda mengalami gejala seperti yang disebutkan di atas maupun berisiko terkena kifosis, akan lebih baik bagi Anda untuk berkonsultasi mengenai kondisi kesehatan tulang Anda dengan dokter. Nantinya, dokter akan menyarankan untuk melakukan terapi rutin maupun prosedur lain, seperti pemasangan brace punggung bagi anak.

Penyakit

Hati-Hati, Hipertensi Bisa Sebabkan Serangan Jantung dan Stroke

Tekanan darah tinggi atau hipertensi sudah cukup familiar di kalangan masyarakat Indonesia. Seseorang dikatakan terkena hipertensi jika ia memiliki tekanan darah pada nilai 130/80 mmHg atau lebih tinggi dari angka tersebut. Tekanan darah diukur lebih tinggi jika jantung memompa darah lebih cepat atau arteri berukuran lebih sempit.

Hipertensi diketahui memiliki risiko memicu penyakit yang lebih serius, seperti serangan jantung atau stroke. Mulanya memang tidak ada gejala yang ditimbulkan karena seseorang yang terkena hipertensi baru akan menyadarinya ketika telah terjadi komplikasi. Walaupun begitu, tekanan darah tinggi dapat secara mudah dideteksi dengan pemeriksaan tekanan darah.

Seperti apa tanda dan gejala hipertensi?

Tanda maupun gejala yang timbul dari penyakit hipertensi akan berbeda-beda bagi setiap orang. Beberapa orang tidak merasakan adanya gejala yang signifikan, sementara itu pada sebagian orang lainnya, kondisi hipertensi dapat menimbulkan efek sakit kepala, sesak napas, bahkan mimisan.

Tekanan darah pada umumnya terbagi menjadi empat kategori:

  • Tekanan darah normal: merupakan kondisi tekanan darah dengan nilai 120/80 mmHg.
  • Tekanan darah meningkat: kondisi ini terjadi ketika tekanan sistolik seseorang berada dalam rentang nilai 120 hingga 129 mmHg dan tekanan diastolik berada di bawah 80 mmHg.
  • Hipertensi tingkat 1: tekanan sistolik berada di 130-139 mmHg dengan tekanan diastolik 80-89 mmHg.
  • Hipertensi tingkat 2: jika tekanan sistolik berada di rentang 140 mmHg ke atas maupun tekanan diastolik 90 mmHg ke atas.

Apa yang menyebabkan hipertensi?

Hingga saat ini, faktor yang menjadi penyebab hipertensi baik pada wanita maupun pria, belum diketahui secara jelas. Namun, beberapa kondisi seperti di bawah ini, berisiko lebih tinggi terkena hipertensi:

  • Berusia lebih dari 65 tahun.
  • Mengalami kelebihan berat badan
  • Memiliki riwayat kesehatan anggota keluarga mengalami hipertensi.
  • Terlalu banyak mengonsumsi garam dan tidak diimbangi dengan mengonsumsi buah dan sayuran.
  • Kebiasaan merokok.
  • Kurang tidur maupun seringkali mengalami kesulitan tidur.
  • Tidak melakukan olahraga secara teratur.

Di samping itu, seseorang dengan kondisi kesehatan memiliki masalah pada ginjal, mengalami diabetes, atau mengalami lupus, juga berisiko tinggi terkena hipertensi.