Obat

Amankah Obat Metamizole untuk Ibu Hamil dan Menyusui?

Ibu hamil dan menyusui memiliki banyak pantangan karena metabolisme tubuh yang berubah serta menghindari risiko buruk terhadap janin atau bayi. Penggunaan obat-obatan juga harus sangat diperhatikan dan dilakukan di bawah pengawasan dokter. Obat Metamizole sebagai obat penghilang nyeri umumnya tidak dianjurkan dikonsumsi ibu hamil dan menyusui karena efek buruk yang mungkin akan ditimbulkan. 

Kegunaan 

Obat metamizole atau dypirone merupakan jenis analgesik atau penghilang rasa nyeri. Obat ini digunakan untuk mengatasi nyeri akut atau kronis yang parah, seperti nyeri trauma pembedahan, sakit perut berat, nyeri tumor, serta demam yang tak kunjung membaik setelah diberikan serangkaian pengobatan lain. Meskipun metamizole tergolong sebagai analgesik, namun juga memiliki efek anti-inflamasi yang lemah. 

Terdapat sekitar 66 jenis obat metamizole yang beredar di Indonesia dengan berbagai merk dan sediaan. Sebanyak 29 diantaranya merupakan obat tunggal, sedangakan 37 lainnya merupakan obat kombinasi. 

Keamanannya bagi ibu hamil 

Metamizole umumnya tidak direkomendasikan bagi ibu hamil sebab risiko metamizole dapat menembus plasenta sampai ke janin. Sebuah studi menunjukkan bahwa terdapat kasus gagal ginjal yang terjadi selama kehamilan setelah mengonsumsi metamizole dosis tinggi atau dalam jangka waktu panjang, terlebih pada trimester pertama dan ketiga. 

Berdasarkan European Journal of Cancer Prevention, ibu yang mengonsumsi metamizole selama kehamilan mampu meningkatkan risiko anak lahir dengan leukimia. Meskipun biasanya leukimia disebabkan faktor genetik, tetapi kemungkinan terjadinya penyakit tersebut karena konsumsi obat-obatan tertentu selama kehamilan dapat terjadi. 

Biasanya ibu hamil diberikan parasetamol untuk meredakan nyeri selama kehamilan. Akan tetapi, pilih parasetamol murni atau tidak disarankan yang mengandung kafein. Hindari pula jenis analgesik ibuprofen karena berisiko tinggi mengakibatkan keguguran pada kehamilan di minggu-minggu pertama. 

Keamanannya bagi ibu menyususi

Pada ibu menyusui, metamizole yang dikonsumsi juga ditemukan dalam darah dan urin bayi sehingga dapat menyebabkan efek farmakologis. Obat ini umumnya juga tidak direkomendasikan untuk ibu menyusui. Bayi akan menerima dosis metamizole tinggi jika dibandingkan dengan porsi berat badannya. 

Sebuah studi melapporkan bahwa terdapat bayi menderita sianosis yang dikaitkan dengan adanya dosis metamizole dalam ASI.  Sianosis merupakan kondisi dimana jari tangan, kuku, serta bibir berwana kebiruan karena kekurangan oksigen dalam darah. 

Meskipun terdapat sumber menyebutkan bahwa ibu sebaiknya tidak menyusui selama 48 jam setelah mengonsumsi metamizole untuk menghindari risiko yang mungkin terjadi pada bayi, namun agaknya memilih alternatif obat analgesik lain akan lebih aman. 

Peredaran metamizole di beberapa negara

Amerika Serikat dan sebagian besar negara di Eropa Barat melarang penggunaan metamizole karena berisiko menyebabkan agranulositosis. Kondisi ini menunjukkan kegagalan sumsum tulang belakang dalam membentuk sel darah putih yang berguna melawan infeksi. Pada tahun 1976 di Inggris, sebanyak 1 dari 100 pengguna metamizole mengidap agranulositosis. Setengah penderitanya mengalami kematian.

Metamizole biasanya digunakan beberapa negara Dunia Ketiga untuk mengatasi nyeri dan demam yang efektifitasnya diklaim mirip dengan aspirin. 

Sedangkan di Indonesia, Peraturan BPOM No. 29 tahun 2017 memperbolehkan peredaran metamizole di Indonesia. Untuk mendapatkan metamizole, Anda bisa melalui resep dokter atau dibeli dengan bebas (OTC). Meskipun demikian, biasanya obat ini menjadi pilihan terakhir setalah obat lain tidak efektif digunakan mengingat efek sampingnya yang cukup berbahaya. 

Penggunaan obat selama kehamilan dan menyusui sebaiknya dilakukan dengan sangat hati-hati untuk menghindari risiko buruk pada janin atau bayi. Pastikan nerkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu serta gunakan dosis yang tepat sesuai anjuran.