Parenting

Kenali Gejala Campak pada Anak

Campak adalah infeksi virus yang dimulai pada sistem pernapasan yang kemudian menyebar ke seluruh tubuh dan sering menyerang anak-anak. Namun kini kematian akibat campak bisa diminimalisir dengan melakukan vaksinasi campak pada anak. Menurut WHO dalam rentang tahun 2000 hingga 2018, vaksinasi campak bisa mencegah sekitar 23,2 juta kematian. Terdapat total lebih 140.000 kematian akibat campak di seluruh dunia dan mayoritas adalah anak dibawah 5 tahun.

Gejala Campak pada Anak

Menurut WHO gejala awal anak terkena campak adalah demam tinggi setelah 10 hingga 12 hari terpapar virus. Demam biasanya berlangsung selama 4 hingga 7 hari dan diikuti dengan hidung dan mata berair, batuk, mata merah, bintik-bintik putih kecil pada pipi.

Setelah beberapa hari, barulah muncul ruam yang biasanya muncul pada wajah dan leher bagian atas. Selama 3 hari ruam akan mulai menyebar hingga tangan dan kaki. Ruam berlangsung selama sekitar 6 hari dan kemudian memudar. Umumnya, rata-rata ruam terjadi 14 hari setelah terpapar virus.

Kematian pada anak-anak yang terkena campak biasanya disebabkan oleh komplikasi. Anak-anak berusia di bawah 5 tahun lebih sering terkena komplikasi akibat campak. Komplikasi tersebut bisa berupa ensefalitis atau infeksi yang menyebabkan pembengkakan otak,  kebutaan, diare parah, infeksi telinga hingga pneumonia. Campak bisa lebih parah jika terjadi pada anak-anak yang kurang gizi, kekurangan vitamin A atau memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah akibat HIV/AIDS atau penyakit lainnya.

Penyebab Campak

Campak adalah salah satu penyakit paling menular yang disebabkan oleh virus rubeola yang merupakan bagian dari jenis paramyxovirus. Campak menyebar melalui droplet saat penderitanya batuk atau bersin, campak juga bisa menular melalui kontak langsung.

Anak-anak yang belum menjalani vaksinasi memiliki risiko terkena campak yang lebih tinggi termasuk komplikasinya yang berupa kematian. 

Pengobatan Campak

Tidak ada obat-obatan khusus untuk campak. Obat yang ada hanya bisa mengatasi gejala. Guna mengurangi gejala campak pada anak, dokter mungkin akan meresepkan obat seperti ibuprofen yang dapat digunakan untuk mengatasi demam. Pemberian antibiotik hanya mampu untuk mengatasi infeksi mata atau telinga dan pneumonia akibat campak.

Semua anak yang terkena campak harus menerima dua dosis vitamin A, yang diberikan dalam interval 24 jam. Pemberian vitamin A dapat membantu mencegah kerusakan mata serta mencegah kematian akibat campak.

Selain itu, pastikan juga anak yang terkena campak diberikan makanan bernutrisi dan mendapatkan asupan cairan yang cukup untuk mencegahnya dehidrasi.

Cara Mencegah Terkena Campak

Vaksinasi merupakan cara utama yang dapat mencegah anak-anak terkena campak. Di Indonesia vaksin campak diberikan bersama vaksin rubella atau yang disebut vaksin MR.  Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pemberian vaksin MR bisa diberikan setelah anak menginjak usia 9 bulan hingga berusia kurang dari 15 tahun. Vaksin campak telah digunakan selama lebih dari 60 tahun yang tergolong aman dan efektif untuk mencegah komplikasi dan kematian akibat campak.

Vaksin campak atau MR biasanya tidak menyebabkan efek samping dan jika pun ada biasanya bersifat ringan seperti demam yang dapat sembuh hanya dalam beberapa hari.

Meski terbilang aman, namun ada beberapa kondisi yang menyebabkan seorang anak tidak bisa mendapatkan vaksin seperti anak-anak yang memiliki penyakit terkait gangguan kekebalan seperti HIV/AIDS atau anak-anak yang menjalani perawatan kanker.

Itulah beberapa gejala campak pada anak yang bisa Anda waspadai. Jangan lupa untuk melakukan vaksinasi rutin agar anak terhindar dari campak dan penyakit lainnya.

Parenting

Anak Kecanduan Gadget? Simak Dampak Buruknya

Seperti kita semua saat ini teknologi adalah bagian dari kehidupan kita. Tanpa teknologi, kehidupan dunia tidak akan dipermudah seperti saat ini. Dunia berkembang karena teknologi baru dan gadget canggih untuk digunakan. Penggunaan gadget yang tepat, sebenarnya menawarkan banyak keuntungan bagi siswa, mulai dari kemandirian dalam belajar, lebih banyak kesempatan belajar, motivasi diri, komunikasi, dan masih banyak lagi. Namun, gadget tidak hanya memiliki efek positif pada anak, tetapi juga efek negatif dari kecanduan gadget.

Dampak kecanduan gadget pada perkembangan anak 

Efek negatif itu semua berasal dari penggunaan atau penyalahgunaan gadget atau teknologi secara berlebihan. Anak yang kecanduan gadget secara berlebihan seperti tablet, laptop, komputer, smartphone, video game, dan lain-lain dapat menurunkan motivasi, kemampuan, dan minat belajar siswa. Selain itu, kecanduan gadget juga dapat memberikan beberapa dampak buruk lainnya seperti berikut.

1. Penurunan perkembangan otak 

Penelitian telah menunjukkan bahwa terlalu banyak gadget dapat berdampak negatif pada fungsi otak anak, dan bahkan dapat menyebabkan defisit perhatian, keterlambatan kognitif, gangguan belajar, peningkatan impulsif, dan penurunan kemampuan untuk mengatur diri sendiri. Anda sebaiknya mengalihkan gadget dengan kegiatan lain seperti untuk bernyanyi, membaca, dan berbicara dengan anak-anak secara langsung daripada membiarkan mereka bermain atau menonton TV di rumah.

2. Risiko obesitas

Anak-anak yang mengandalkan waktu bermain mereka di depan layar daripada di luar di taman bermain tidak akan membakar kalori yang mereka konsumsi. Kondisi ini dapat menyebabkan komplikasi seperti diabetes, serangan jantung, dan stroke. Orang tua harus mendorong anak-anaknya untuk lebih banyak bermain di luar rumah. Mereka harus memahami bahwa ada banyak manfaat dari bermain seperti berjalan, berlari, melompat dan mendapatkan latihan yang mereka butuhkan. Anak-anak bisa menjadi lebih bugar saat bermain di taman dan membangun hubungan baik dengan teman sebayanya. 

3. Emosi yang tidak stabil

Anak yang kecanduan gadget akan tumbuh menjadi agresif karena berjam-jam bermain game di tablet mereka. Tantrum adalah bentuk agresivitas yang paling umum di kalangan balita. Seiring bertambahnya usia, anak-anak yang kecanduan game komputer lebih mungkin untuk menentang dan tidak mematuhi orang tua mereka. Jadi mulai hari ini, daripada mengandalkan tablet untuk menenangkan anak Anda, pilihlah buku mewarnai atau bola.

4. Paparan radiasi

Menurut laporan Organisasi Kesehatan Dunia 2011, ponsel dan perangkat nirkabel lainnya dianggap berisiko kategori 2B karena emisi radiasinya. Pada Desember 2013, Dr. Anthony Miller dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Toronto mengungkapkan bahwa paparan frekuensi radio jelas merupakan ancaman bagi anak-anak. Healthy Child Healthy World mengakui meningkatnya isu radiasi di kalangan anak-anak yang kecanduan gadget.

5. Interaksi sosial yang buruk

Dengan bermain di tablet, mereka dapat dengan mudah bermain sendiri. Jika anak-anak menghabiskan terlalu banyak waktu untuk teknologi dan lebih sedikit waktu dengan orang-orang, hal ini dapat menghambat interaksi dan mengganggu perkembangan keterampilan komunikasi yang normal pada anak-anak. Anak yang kecanduan gadget sering gagal meningkatkan komunikasi mereka dengan orang tua karena telah memiliki dunia mereka sendiri.

6. Kurang tidur

Anak-anak yang kecanduan gadget kehilangan waktu istirahat yang dibutuhkan. Mereka  akan lebih memilih untuk bermain gadget sepanjang hari daripada tidur siang. Anak yang  sudah kecanduan gadget akan menjadi sangat marah dan  agresif jika Anda melarangnya untuk memegangnya. 

7. Rusaknya penglihatan

Paparan yang terlalu lama di layar komputer membuat mata tegang. Para ahli mengatakan bahwa penglihatan yang baik sebagian besar tergantung pada menatap hal-hal dari jarak yang bervariasi. Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang kecanduan gadget atau game komputer lebih mungkin mengalami masalah mata saat mereka tumbuh besar.