bayi & menyusui

Kapankah Waktu yang Tepat Memberikan Madu untuk Bayi?

madu untuk bayi

Memberikan madu untuk bayi sangat tidak disarankan. Hal ini karena pemberian madu pada anak berusia di bawah 1 tahun dapat menyebabkan gangguan kesehatan, mulai dari kerusakan gigi hingga keracunan serius.

Sebagian orang tua percaya bahwa memberikan madu untuk bayi dapat membantu mencegah penyakit dan meningkatkan daya tahan tubuhnya. Padahal, memberikan madu jenis apapun untuk anak berusia di bawah 1 tahun justru sangat berisiko untuk kesehatannya.

Jangan pernah memberikan madu apapun kepada anak yang belum berusia satu tahun. Jika mengonsumsi madu, bayi berisiko mengalami beberapa masalah kesehatan berikut ini.

1. Keracunan madu atau botulisme

Madu mengandung bakteri Clostridium botulinum. Pada anak usia 1 tahun ke atas, bakteri ini aman dikonsumsi. Namun bagi anak di bawah 12 bulan, bakteri pada madu ini dapat menyebabkan keracunan serius yang disebut botulisme. Ini terjadi karena anak usia 1 tahun ke bawah belum memiliki daya tahan tubuh dan sistem pencernaan yang kuat untuk melawan bakteri tersebut.

Meski tergolong penyakit yang jarang terjadi, botulisme bisa berakibat fatal dan mengancam nyawa. Bakteri Clostridium botulinum bisa menyerang sistem saraf bayi, membuat otot-ototnya menjadi lemah bahkan lumpuh, serta mengancam sistem pernapasannya.

2. Kerusakan gigi

Alasan lain mengapa madu tidak boleh ditambahkan pada makanan dan minuman bayi adalah karena madu mengandung kadar gula yang tinggi dan bisa merusak giginya yang baru tumbuh.

3. Obesitas

Dampak lain pemberian madu pada bayi adalah membuatnya terbiasa dengan rasa manis. Akibatnya, ia akan terus-menerus menginginkan makanan yang manis, dan menolak makanan lain yang rasanya kurang manis. Hal ini berisiko menyebabkan anak menderita kelebihan berat badan atau obesitas ketika dewasa, serta meningkatkan risikonya untuk menderita diabetes tipe 2, penyakit jantung, hingga kanker.

Sebenarnya, madu untuk anak 1 tahun maupun orang dewasa aman dikonsumsi. Hanya saja, madu tidak boleh diberikan sebagai MPASI bayi hingga mereka berusia 1 tahun. Alasannya, madu mengandung spora bakteri (Clostridium botulinum) yang dapat berkembang pada sistem pencernaan bayi yang belum matang.

Ketika spora berubah menjadi bakteri di dalam usus, maka spora tersebut akan menghasilkan neurotoksin yang berbahaya dalam tubuh. Hal ini akan mengakibatkan penyakit botulisme pada bayi.

Meski jarang terjadi, kondisi ini bersifat gawat darurat dan dapat berakibat fatal. Pada usia 6 bulan, bayi berada pada risiko tertinggi mengalami botulisme. Segera periksakan bayi Anda ke dokter jika bayi menunjukkan gejala-gejala botulisme, seperti ini.

  • Susah BAB
  • Otot lemah
  • Sulit menyusu
  • Rahang kendur
  • Menangis lemah
  • Tidak nafsu makan
  • Rewel
  • Sulit bernapas
  • Sebagian bayi dapat mengalami kejang

Gejala botulisme biasanya muncul dalam waktu 12-36 jam setelah mengonsumsi makanan yang telah terkontaminasi Clostridium botulinum, dan dimulai dengan sembelit. Namun, sebagian bayi mungkin tidak menunjukkan gejala hingga 14 hari setelah paparan bakteri.

Beberapa gejala botulisme dapat menyebabkan salah diagnosis. Hal ini dikarenakan gejala ini mirip dengan gangguan atau penyakit lain. Agar tidak terjadi botulisme atau gangguan kesehatan lainnya akibat madu, maka anak yang usianya masih di bawah 1 tahun tidak dianjurkan untuk mengonsumsi madu. Sebagai pemanis alami untuk makanan pendamping ASI bagi bayi usia 6 bulan ke atas, Bunda dapat menggunakan sari buah.

Oleh karena itu, penting untuk memberi tahu dokter jika Anda memberikan madu untuk bayi. Diagnosis yang benar akan membuat bayi mendapat perawatan yang tepat. Menurut jurnal dari Lakartidningen, diagnosis botulisme ditegakkan berdasarkan kultur feses dan deteksi racun pada feses.